Akar yang sama. Iman yang hidup.
Setiap perjalanan besar dimulai dari sebuah langkah iman. Inilah kisah panggilan, perintisan, dan pelayanan yang membentuk Gereja Pantekosta di Indonesia.
1910–1920
Awal panggilan
Dari Seattle, sebuah panggilan dimulai.
Gereja Pantekosta di Indonesia berawal dari kedatangan dua keluarga misionaris dari Gereja Bethel Temple Seattle di Amerika Serikat ke Indonesia. Gereja Bethel Temple Seattle didirikan oleh seorang misionaris asal Inggris yang bernama Rev. William Henry Offiler (lahir 1875).
Pada tahun 1910-an, pelayanan Gereja Bethel Temple dimulai dari Pine Street Pentecostal Mission yang terletak di pusat Kota Seattle, di antara Second dan Pine.
Pada tahun 1919 dibangun gedung baru di 7th Avenue and Oliver Street, tetapi pelayanan berpindah lagi ke 3rd Avenue dengan nama Gereja Bethel Temple Seattle pada tahun 1920.
Terlepas dari pembangunan gedung tersebut, kebaktian kebangunan rohani (KKR) diselenggarakan di Green Lake, Seattle pada tahun 1919 dimana ratusan orang dilawat oleh hadirat Allah sehingga mereka mengalami kesembuhan Ilahi, kepenuhan Roh Kudus, dan pertobatan.
Dari ratusan orang tersebut, terdapat dua pasang suami-istri imigran Belanda di Amerika Serikat, yaitu Richard Dick van Klaverens dan istri serta Cornelius E. Groesbeek dan istri, yang turut menerima panggilan Tuhan ditandai dengan mendapat penglihatan dari Tuhan untuk pergi ke Pulau Jawa di Nederland Oost Indie (sekarang Indonesia).
Mereka bertemu dengan Rev. Offiler sebagai gembala dari Gereja Bethel Temple untuk mendiskusikan tentang panggilan mereka dan mengadakan pengumpulan dana untuk memenuhi panggilan Tuhan tersebut.
Alhasil, telah terkumpul dana sebesar USD 1.700, tetapi terdapat kekurangan dana sebesar USD 500.
Pada satu hari, datanglah seorang wanita yang bernama Emily Malquist menghadap Rev. Offiler. Malquist menceritakan bahwa ia telah mengalami mujizat dari Tuhan dengan disembuhkan dari penyakit tumornya tanpa harus menjalani operasi dan ia menyerahkan dana sebesar USD 500 yang awalnya diperuntukkan sebagai dana operasinya kepada Rev. Offiler.
1921–1923
Tiba di Indonesia
Melintasi lautan. Menabur iman.
Menyadari bahwa hal ini adalah cara Tuhan bagi kedua pasangan suami-istri tersebut untuk menjalankan panggilan Tuhan bagi mereka, maka kedua pasangan tersebut pun berangkat ke Pulau Jawa dengan kapal laut Suamaru pada tanggal 4 Januari 1921 dengan rute pelayaran melalui Yokohama, Jepang dan singgah sementara di Tiongkok.
Pada 23 Februari 1921, pasangan suami-istri Groesbeek dan Van Klaveren tiba di Indonesia, tepatnya di Batavia (sekarang Jakarta), kemudian melanjutkan perjalanan dengan menumpang kapal varkenboot dari Batavia menuju ke Bali melalui Mojokerto, Surabaya, dan Banyuwangi hingga akhirnya mereka tiba di Singaraja, Bali pada bulan Maret 1921.
Pada masa itu, Pemerintah Kolonial Hindia Belanda memberlakukan larangan untuk melakukan penginjilan di Bali dengan tujuan agar tidak merusak kebudayaan asli Bali, sehingga kedua pasangan suami-istri tersebut beralih ke Surabaya tepat menjelang Natal tahun 1922.
Selanjutnya, keluarga Van Kleveren melanjutkan perjalanan ke Batavia dan keluarga Groesbeek di Surabaya berkenalan dengan Nyonya Wijnen yang mempunyai keponakan bernama F. G. van Gessel yang bekerja di sebuah perusahaan minyak milik Belanda di Cepu, bernama BPM.
Pada Januari 1923, kebaktian pentakosta perdana diadakan di rumah F. G. van Gessel di Deterdink Boulevard, Cepu.
Kemudian, diadakan pula baptisan air pertama kali pada 30 Maret 1923 di Pasar Sore Cepu dengan jumlah tiga belas jiwa yang dibaptis, termasuk F. G. van Gessel.
Kedatangan di Batavia.
Awal perjalanan pelayanan di Indonesia.
1924–1942
Jemaat & pendidikan
Bertumbuh dalam iman dan pengajaran.
Pada tahun 1930-1942, F. G. van Gessel diberikan kepercayaan untuk menjadi ketua organisasi Vereeniging de Pinkstergemeente in Nederlandsch Oost Indie (Serikat Penginjilan Pantekosta di Hindia Belanda) di Bandung untuk menggantikan ketua sebelumnya, Pdt. D. W. H. Weenink van Loon.
Pada 4 Juni 1924, nama Vereeniging de Pinkstergemeente diganti menjadi De Pinkstergemeente (Jemaat Pantekosta di Hindia Belanda).
Pada Januari 1935, Rev. W. W. Peterson mendirikan Nederlandsche Indie Bybel Institut (Sekolah Alkitab Pantekosta Hindia Belanda) di Jalan Embong Malang 63, Surabaya, dibantu oleh Pdt. F. G. van Gessel, Rev. Johnson, Pdt. H. N. Runkat, Pdt. W. Mamahit.
Dengan pecahnya Perang Dunia Kedua, maka Rev. W. W. Peterson harus kembali ke Amerika Serikat dan Nederlandsche Indie Bybel Institut ditutup.
Namun, ajaran Pentakosta berkembang dengan pesat sehingga status De Pinkstergemeente dinaikkan menjadi Kerkgenootschap (Badan Gereja) dan berubah nama menjadi De Pinksterkerk in Nederlands Indie (Gereja Pantekosta di Hindia Belanda) melalui Beslit No. 33 Staatsblad No. 768 (Surat Keputusan No. 33 Lembaran Pemerintah Hindia Belanda No. 768) serta diperkuat oleh Beslit Gubernur Jenderal No. 29 Tanggal 24 Juni 1937.
1926–1940
Perintisan daerah
Satu kabar baik, menjangkau Nusantara.
Tidak hanya itu, terdapat juga para pionir GPdI yang turut memperluas dan mengembangkan hingga ke seluruh Indonesia dengan pesat. Para pionir tersebut adalah Pdt. H. N. Runkat menjangkau Pulau Jawa yang terdiri dari Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan sekitarnya; Pdt. Nanlohy menjangkau kepulauan Maluku (Amahasa) yang kemudian disusul oleh Pdt. Yoop Siloey dan rekan-rekan pada tahun 1926; Pdt. S. I. P. Lumoindong menjangkau Daerah Istimewa Yogyakarta pada tahun 1928; Pdt. Yulianus Repi dan Pdt. A. Tambuwun yang disusul oleh Pdt. A. Yokom, Pdt. Lumenta, Pdt. Runtuwailan menjangkau Sulawesi Utara pada tahun 1929; Pdt. De Boer disusul Pdt. E. Pattyradjawane dan A. F. Wessel menjangkau Kalimantan Timur pada tahun 1930; Pdt. A. E. Siwi menjangkau Pulau Sumatera yang terdiri dari Sumatera Selatan, Lampung, dan Sumatera Barat pada tahun 1932-1933 serta Sumatera Utara pada tahun 1939.
Tidak hanya itu saja, Pdt. R. M. Soeprapto juga mulai membantu pelayanan di Blitar, Singosari dan sekitarnya pada tahun 1932 dan ke Sitiarjo, Malang Selatan pada tahun 1937.
Pada tahun 1935, Pdt. Siloey dan rekan-rekan turut merintis pelayanan ke Kupang, Nusa Tenggara Timur.
Pada tahun 1939, Pdt. E. Lesnussa merintis dari Sulawesi Utara dan Ternate ke Makassar dan sekitarnya.
Pada tahun 1940, Pdt. J. M. P. Batubara membuka perintisan di Pontianak, Kalimantan Barat, serta Pdt. Yonathan Itar di Irian Jaya dan sekitarnya.
1942–1980
Identitas & kepemimpinan
Melanjutkan pelayanan, lintas generasi.
Pada tahun 1942 di zaman kolonial Jepang, nama De Pinksterkerk in Nederlandsch Oost Indie diganti menjadi Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) dan kepengurusan Gereja dialihkan kepada putra-putra Indonesia yang diawali oleh Pdt. H. N. Runkat (1942-1957) kemudian kepada Pdt. E. Lessnusa (1957-1973).
Namun, dikarenakan sebelum habis masa jabatannya Pdt. E. Lessnusa telah berpulang ke sorga pada tahun 1970, maka jabatan ini dilanjutkan oleh Pdt. L. A. Pandelaki sebagai ketua dan Pdt. A. H. Mandey sebagai sekretaris jendral (1970-1973), dan kemudian terpilihlah Pdt. W. H. Bolang (1973-1980).
Pada tanggal 9-12 Januari 1952, dibentuklah Majelis Daerah (MD) untuk mengorganisasi perkembangan jemaat di berbagai daerah di Indonesia.
Pada tahun 1980, Musyawarah Besar diadakan di Jakarta dan terpilihlah Pdt. A. H. Mandey sebagai Ketua Umum GPdI.
2005 & selanjutnya
Rekan pelayanan
Rekan pelayanan dan penginjilan internasional.
Pada tanggal 29 Mei 2005, Pdt A. H. Mandey dan Pdt. M. D. Wakkary mengadakan pertemuan dengan Four Square Church di Chicago, Amerika Serikat.
Kemudian, Dr. Jack Hayford, Presiden Four Square Church, menyampaikan keputusan bahwa Four Square Church menerima GPdI sebagai rekan pelayanan dan penginjilan internasional.
Kini, GPdI memiliki lebih dari 13.000 penggembalaan di Indonesia dan luar negeri serta 25 sekolah alkitab, 1 akademi teologi, 4 sekolah tinggi alkitab, dan 6 sekolah tinggi teologi.
Untuk itu, GPdI membentuk Majelis Pusat (MP) sebagai lembaga tertinggi secara nasional yang membawahi Majelis Daerah (MD) yang tersebar di seluruh Indonesia dan beberapa di luar negeri.